
Lokasi : Ciomas, Rancamaya-Bogor
Jarak : at least 12 KM (5 jeram)
Biaya : 175 rb**/ orang (termasuk makan siang dan flying fox)
Tertarik? Ayooo...saya juga mau lagi! :)
* Sekarang, gw ngerti rasanya kenapa Adin ada di divisi arjer. Hihi...Ayo ikutan ini juga, Kud! Pacaran lagi kita di sini...
** The more, the cheaper.
1.4.09
Let's go rafting!*
Directed by oPHy at 1:29:00 PM 2 opinion(s)
Episode: Rekomendasi
22.12.08
Ramaditya @ Pujangga 2008

Ia adalah seorang penulis buku.
Ia adalah seorang blogger.
Ia adalah seorang music composer.
Siapa yang sangka ia seorang tuna netra?
Tampil inspiring di "Kick Andy",
dan hari ini saya berkesempatan bertatap muka langsung di Pujangga 2008 :
Eko Ramaditya atau akrab disapa Rama.
Dari dia saya belajar, inspirasi memang penting namun motivasi jauuuuh lebih penting.
Maafkan saya selama ini mengesampingkan Anda, Mr. Motivasi. Hehe.
Untuk Rama : SALUT. Way to go! :)
Directed by oPHy at 1:02:00 AM 0 opinion(s)
Episode: Rekomendasi
18.12.08
EFEK-RUMAH-KACA MODE :
ON.
Ah, masa bodo.
Cari deh CD mereka.
Kalo kata Dian Sastro sih di ak.sa.ra, tapi apabila tidak bisa seperti beliau, cukup pesan di stand rakyat, Barel.
Merasa bulu ketek Anda tidak terbuat dari uang alias males beli CD karena keuangan terbatas? Ikuti jejak tunangan gw, Rima Nadya, yang sangat lihai dalam urusan unduh mengunduh lagu versi digital di sini.
Satu yang gw suka sih yang gw jadikan SOTM di sebelah : Cinta Melulu-benar2 pas mengambarkan ambivalensi gw terhadap top chart radio Indonesia jaman sekarang.
Tapi, yang paling, PALING gw suka adalah DESEMBER.
Dibalik awan hitam,
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember
Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka
Directed by oPHy at 1:08:00 AM 3 opinion(s)
Episode: Rekomendasi
24.10.08
132 Meter Di Atas Permukaan Jakarta
Apa jadinya jika Jakarta berubah ketinggian menjadi 132 M di atas permukaan laut?
Mungkin Jakarta tidak lagi kebanjiran.
Mungkin Jakarta tidak lagi sepanas sekarang.
Mungkin akan ada banyak stasiun KA di sana harus sedkit direpotkan dengan mengoreksi sejumlah angka di belakang nama stasiun(FYI, angka2 di belakang nama stasiun, seperti : "Bogor +240m" itu berarti Stasiun Bogor berada di ketinggian 240 meter di atas permukaan laut--Terimakasih Abang Teguh telah memberi saya pengetahuan seperti ini=D).
Ah, banyak sekali kemungkinan, tapi untung saja post kali ini tidak membahas seandainya ketinggian Jakarta berubah. Coba lihat lagi judulnya....
YAK! memang yang akan gw bahas adalah Jakarta jika dilihat dari ketinggian 132 Meter.
Dari manakah itu?
Dari tempat di mana gw tadi membolang bersama Vinda.
So Here we were...
Tugu Monumen Nasional a.k.a Monas!
Ratusan kali gw liat, Puluhan kali gw lewati, belasan kali gw kelilingi tamannya, tapi belum pernah sekali pun gw masuk ke dalam Monas itu sendiri...
Bagaimana dengan Vinda?
Ingatannya tentang Monas tentu saja telah membusuk seiring dengan tahun-tahun yang ia lewati, karena terakhir kali Vinda kesini adalah ketika ia masih pakai seragam merah-putih dengan ingus belepotan di sana-sini....ahahaha....
Setelah "tawaf" mengelilingi Monas untuk nyari jalan masuk, akhirnya kami menemukan jalan masuk Monas melalui terowongan bawah tanah. Inilah terowongan yang harus kami lewati. Panjangnya kira2 dua setengah kali panjangnya terowongan St. Depok Baru. Tapi tentu aja terowongan ini bersih, kinclong, dingin pula! Ahahaha...Untung ini dikelola dengan sebaik mungkin oleh pemerintah, kalo engga ya...pasti disana-sininya terowongan udah ada orang teriak "Yak dibeli-beli beli..."
Oh ya, untuk masuk ke dalam Monas sampai menuju puncak harus merogoh kocek sebesar 8.500 IDR/person.
Ini adalah museum yang terletak di bagian bawah Monas. Di dalamnya terdapat maket-maket yang menggambarkan sejarah Indonesia. Lihatlah yang di belakang Vinda itu.
Yang kotak2 kayak akuarium itu adalah maket yang gw maksud.
Nah...ini adalah maket Favorit gw. Maket ini menceritakan tentang Sumpah Palapa yang dilakukan Patih Gadjah Mada untuk mempersatukan nasional. Dari dulu gw sering mempertanyakan, apakah Gadjah Mada beneran suka Palapa (kelapa) makanya ia berkorban ga mau makan itu sampai cita-citanya kesampaian, atau jangan2 dia pilih itu gara2 emang ga suka kelapa sama kayak gw ga suka duren? ahaha...silly thought!
Selain maket-maket sejarah, ada juga maket MONAS itu sendiri.
Inilah kira-kira Monas kalo ketemu Godzilla betina.
Godzilla akan mengincar Monas karena Monas terlihat seperti Indoeskrim meiji....
Salah satu yang terdapat di museum selain maket-maket.
Puas mengelilingi museum, maka kami pun bergerak menuju puncak. Vinda pengen difoto di pintu masuk karena ada bule-bule itu dan memaksa foto ini dimasukkan ke blog. Hyahahahaa...
ampun Vind...
Eh ya, untuk menuju puncak, kami semua harus naik lift tua yang sangat tidak disarankan untuk klaustrophobia. Lebih baik lu-lu para klaustrophobia guys naek tangga ampe mabok ketimbang naik lift ini. Serius gw. Apalagi perjalanan dari lantai dasar ke puncak tuh jauhnya udah kayak Jakarta-Bogor naik Boeing 737. Ada lah 5 menitan di dalam lift. Hehehee....
Nah, di atas ini adalah "132 meter di atas permukaannya Jakarta" yang dapat dilihat dari Monas.
Kiri-atas : Selatan
Kanan-atas : Timur
Kanan-bawah : Utara
Kiri-bawah : Barat
(Untuk Keterangan lebih lanjut apa yang ada di 4 arah mata angin di atas, silahkan datang sendiri ke Monas). Ohohohoho!
Nah, ini lah gw bersiap-siap menerawang pemandangan-pemandangan di atas.
Sebelum menerawang, gw harus beli koin dulu seharga 2000 IDR.
Dengan harga segitu, maka teropong ini akan dapat digunakan selama lima menit.
Di atas itu adalah Vinda, orang yang paling takut memandangi apapun dari puncak Monas sini.
Gw curiga dia jangan-jangan phobia ketinggian, tapi nggak mau bilang-bilang. Prestasinya selama di puncak Monas adalah menjulurkan kepala melalui jeruji. Konon kabarnya, jika kepala Anda bisa melewati jeruji, maka kepala Anda menjadi tahan banting dan nggak bego-bego meskipun ditoyor2 ratusan kali. Hehehe...*)
Sayang sekali, kepala gw nggak muat. Lihatlah itu....Vinda tersenyum riang berhasil melewati jeruji sementara gw hanya bisa ngebatin, "Kenapa kepala gue gede banget kayak Makibao?"
Oh ya, selama kami berada di Monas ini, kami selalu ditemani lagu-lagu perjuangan, seperti Indonesia Pusaka, Berkibarlah Benderaku, Indonesia Raya Instrumental, dan lain-lain. Sungguh membuat "adrenalin nasionalisme" mendidih!
Perjalanan kali ini pun ditutup dengan makan siang di Soto Gading Kalibata.
Soto yang dijual di sini adalah jenis Soto Semarang.
Buat yang pernah icip2 Soto Bangkong di Puncak, maka pasti tau seperti apa bentuk Soto Semarang. Nah, Soto Gading ini benar2 SADIS rasanya!
Gue saranin untuk pesen soto dengan nasi campur (Soto dan nasi dijadikan dalam satu mangkuk, engga dipisah2), seperti di atas karena gw punya keyakinan bahwa nasi memberikan pengaruh pada rasa si soto itu sendiri. Gue percaya dengan sepenuh hati bahwa nasi punya rasa! Ahahahaa....beneran loh iniii.....
Harga Soto dengan nasi campur adalah 7000IDR/porsi.
Komentar2 kami mengenai Soto Gading :
-Vinda : "Mantab! Kuahnya seger banget, bikin gue nambah! Apalagi ditambah sate ayam diiris tipis..ditambah cabe buat yang suka pedes, bikin gue nambah!" --> Ih, kok kayak kometar ibu-ibu yang suka ditaro di iklan obat penyusut lemak yang di majalah2 itu yah? hahahha...Menurut gw itu bukan sate ayam, tapi sate empal. Vinda maksa gue buat percaya itu sate ayam, jadi ya gue tulis aja apa adanya. hahahaha!
- Ophy :
"Kalo mottonya Soto Gading sama seperti mottonya resto2 Padang**), maka gw memilih untuk beritahu teman, melalui tulisan ini salah satu bentuknya..."--> Cieee...ini baru komentar! Cool and Confident....hahaha...
SOTO GADING KALIBATA
Terletak di Stasiun Kalibata
SISI PERON BOGOR
Keterangan :
*)Percaya lo??? Silahkan buka http://www.adaapadibalikjerujimonas.net/ ***)
**)"Jika Anda puas, beritahu teman. Jika Anda tak puas, beritahu kami"
***)Engga banget deh lo ketipu dua kali!
Directed by oPHy at 9:11:00 PM 0 opinion(s)
Episode: Rekomendasi
20.10.08
Membolang ke Juanda
Hai, kawan-kawan...!
Saya Ophy, dan teman saya Rima....
Kami berdua adalah host Bolang (Bocah Petualang) kali ini. Nah, karena sekarang lagi jaman segala sesuatunya ditambahin awalan me- (contoh: mengerjkan KAUP jadi Mengaup), maka kegiatan para Bolang kali ini kita sebut saja ya dengan MemBOLANG....ohohoho!Selamat mengikuti kami Membolang yaa!
Kali ini...kami berdua menuju daerah JUANDA, Jakarta.
Supaya irit kami menaiki KRL Ekonomi. Berangkat dari Stasiun UI dan berhenti di Stasiun Juanda. Harga karcis? Cukup bayar 1500 IDR saja....ohohoh...murah bukan? Makanya jangan alergi ya naek kereta ekonomi. LoL.
Setibanya di Juanda, kami turun dan berbelok ke arah kanan, tepat di bawah perlintasan kereta yang menuju Bogor. Dari sana, kami menyeberangi jalan menyusuri Jalan Veteran. Ya teman-teman, Es Krim Ragusa terletak di Jalan Veteran, tepat di samping mesjid Istiqlal, hanya dipisahkan oleh sebuah bandar. Es Krim Ragusa ini sudah ada sejak tahun 1932. Es krimnya Home Made....Terkenal loh di kalangan pecinta kuliner! Ini pesanan kami berdua....
Saya dan Rima sama-sama memesan Spaghetti Ice cream...Itu adalah salah satu menu andalan Ragusa. Es krimnya bukan terbuat dari spaghetti loh...Tapi...
Es krim Vanilla dibentuk melingkar-lingkar dan keriting a la Spaghetti makanya disebut Spaghetti Ice cream.
Toppingnya : kacang tumbuk, coklat cair dan potongan jelly candy...
Harga : 27.000 IDR/porsi
Ohoho...Di atas ini kami sedang MemBondanWinarno alias menjadi Pak Bondan Winarno (Wisata Kuliner)...Kami icip-icip dengan penuh penghayatan.
Rima :
- Es krimnya kerasa susu kental manisnya
- Enak banget
- dll (haha...maav nta gw lupa respon lo...hahaha...)
Ophy :
- Dark Choco cairnya enak banget, meleleh di lidah (FYI, kami pake extra choco) dan bikin pengen tuang terus..terus...terus...dan teruuusss
- Eskrimnya lembuuut...
- Kacang tanah tumbuknya GURRRRIIIIH....
- Jelly Candynya bikin rasa eskrim ini makin eksotis...
Huahhh.... (Btw, foto si oPHy kyak lagi nyicipin sup, bukan eskrim...hahahah)
Selepas menikmati Es krim, kami shalat Ashar ke Mesjid Istiqlal.
Di balik pengambilan gambar depan mesjid, ada cerita lucu.
Jadi, ada beberapa orang yang senyam-senyum geli pas ngeliat kita foto-foto di depan istiqlal gini. Dikiranya dari Udik kali ya.... Lalu salah seorang di antaranya bertanya,
" Ngapain Mbak kesini?"
gue menjawab "jalan-jalan"
"mbak dari mana?"
"Pariaman"
Mereka pun malas menanggapi setelah gue menyebut kata-kata sakti "Pariaman". Mungkin beneran nyangka kita dari udik nun jauh tak terkenal pula. Hyahahaha!
Hyahahaha.
Dahulu kala, kalo Cicax kecapekan jalan kaki dya selalu menyebut-nyebut begini,
" Aduh, kaki cicax udah segede tonggak istiqlal aja nih, Phy!"
Nah, ini adalah tonggak istiqlal tersebut.
Benar-benar deh kaki si Cicax ini...
Extremely huge! hahahhaha!
Setelah Shalat Ashar, kami pun berkodak-kodak (baca : Foto2) ga jelas di antara pilar2 Istiqlal ini....Ya inilah beberapa jepretan di antaranya. Oh ya, kami juga nyobain ngambil foto pake Panorama Mode dari Hp saya.
Best taken by Ophy
Best taken by Rima
Ow kay...kawan-kawan, perjalanan Bolang kali ini berakhir sampai di Istiqlal. Sampai Jumpa di perjalanan berikutnya!^^
Directed by oPHy at 10:27:00 PM 2 opinion(s)
Episode: Rekomendasi
27.9.07
Vintageable.com
Ladies...(Sorry, I don't write this recommendation for men)
You, who have a great interest in vintage, must check this site out!
Sebuah clothing-site yang mengangkat tema vintage dan jadi distributor outfit berbau vintage.
Hooo...harus lihat deh sepatunya yang UcuL-UcuL itu....!
Koleksinya emang belom banyak sih kayaknya, tapi dapat dimaklumi karena situs ini masih bar baru berdiri....
Jelas ada beberapa sepatu yang (bagi kalian) sangat UcuL, tapi, TOLONG untuk yang satu ini, jangan dimasukkan ke shopping cart kalian ya....Please....

taken from here
Ah, memang Bu Pratesianingrum (content webmaster) and her Beau sangat kreatif sekali.
Salut gw, Tis!^^
Semoga di kemudian hari koleksi uculnya makin nambah, dan ngebantu para vintage-lovers untuk vintaging their style...hehehe!
Directed by oPHy at 7:25:00 PM 0 opinion(s)
Episode: Rekomendasi