Dengan ini menyatakan bahwa Ophy Quamilla dan Ari Kuncoro Pramesti setuju untuk melakukan gencatan senjata hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
oP.Q
Directed by oPHy at 10:06:00 PM 5 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Satu episode dalam kehidupan membentuk sebuah titik.
Episode lain membentuk titik berikutnya.
Begitu banyak episode merupakan sejumlah titik.
Dari sejumlah titik dapat tercipta sebuah garis.
Apakah garis tersebut adalah garis lengkung atau garis lurus, tergantung pada titik-titik mana saja yang dihubungkan.
Setiap orang tentu punya garis kehidupannya sendiri.
Pada suatu titik tertentu, berbagai garis bertemu.
Pada suatu episode, kehidupan sejumlah insan dipertemukan.
Itulah yang terjadi pada kita hari ini.
Pada episode 17 Januari 2009, garis saya dan garis Anda dipertemukan kembali.
Sudah cukup banyak titik yang Anda lalui, begitu panjang garis yang Anda lewati, begitu besar perubahan yang terjadi.
Satu yang tidak pernah berbeda : cara Anda menatap saya.
Masih dengan tatapan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Dibalik semua kepalsuan Anda, bisa saya lihat rindu yang tulus.
Dibalik semua canda dan tawa, bisa saya dengar sakit yang nyata.
Tapi saya tidak pernah lagi memiliki satu yang selalu sama karena semua sudah begitu berbeda.
Bahkan tidak ada lagi dendam yang membara.
Ketika saya menyadari tidak ada secuil pun rasa tersisa, saya baru benar-benar paham bahwa inilah saat yang tepat untuk melepas Anda dan merelakan semua.
Maka,
Selamat tinggal, Malaikat Kematian.
Takdir memang mempertemukan kita kembali, hanya saja kali ini pada titik yang benar-benar berbeda : Titik Beku.
Directed by oPHy at 11:38:00 PM 0 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Directed by oPHy at 2:40:00 AM 3 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Directed by oPHy at 9:26:00 PM 4 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Galaksi mana yang sedang ia jelajahi kini? Angin malam bertanya.
"Entahlah"
Bintang apa yang sedang ia kunjungi? Matahari mencari kabar.
"Mana saya tahu"
Sedang apa ia di sana? Rerumputan penasaran.
"Yang jelas memenuhi ekspedisinya"
Gadis hujan tidak tahu apa yang ia lakukan.
Gadis hujan tidak tahu apa yang ia rasakan.
Satu yang gadis hujan tahu.
Ia dan Penjelajah bintang terikat secara lahiriah, tapi tidak secara batiniah.
Koneksi hati.
Itu yang ia butuh.
Sayang, hatinya berkhianat. Mengantarkan Sang Gadis pada hati lain.
Sosok yang seharusnya tidak punya hati, tidak punya nurani : Malaikat Kematian.
Directed by oPHy at 6:10:00 PM 0 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Penjelajah bintang.
Akhir-akhir ini hujan, angin malam, matahari, bulan dan awan sering membicarakannya.
Menurut mereka, ia adalah sosok khafilah yang menunggangi unicorn bersayap emas.
Kesukaannya adalah mengembara jauh bintang demi bintang. Galaksi demi galaksi.
Tidak ada yang tahu dari mana ia datang.
Tidak ada pula yang bisa meramalkan kapan ia pergi.
Ia misterius.
Ia angkuh.
Ia tidak dapat diterka.
Kali ini, persinggahannya adalah bimasakti.
Tak lupa ia mengunjungi matahari.
Darinya, Sang Penjelajah mendengar cerita dari bumi tentang cinta tak bersyarat.
Tentang seorang gadis yang menunggu kekasihnya kembali, meski harus dibayar mahal dengan kematian.
Penjelajah begitu tertarik,
pikirnya, "gadis ini pastilah sesuatu yang unik"
Maka ia memutuskan mendatangi bumi.
Karena itulah akhir-akhir ini hujan, angin malam, matahari, bulan dan awan membicarakannya.
"Hai gadis, persiapkan dirimu"
" Hai gadis, jangan lagi kamu bermuram durja. Sudah saatnya kamu akan bahagia"
" Hai gadis, lupakanlah malaikat kematian. Ia tidak akan datang jika takdir tak mengizinkan"
Mereka berusaha memberitahu gadis hujan yang sedang menikmati kehampaan.
Gadis hujan menjawab lirih,
" Apa itu kebahagiaan jika bukan kematian dan kehidupan yang baru untukku?"
Bulan menasehati,
" Gadis hujan, kehidupan yang baru dapat kau raih tanpa harus bertemu dengan kematian"
Namun si Gadis menepis,
" Tapi Bulan, kematian adalah awal dari kehidupan baru, bukan?"
Hujan dan Angin malam angkat bicara,
" Untuk apa kamu menyibukkan diri menghadapi kematian jika kematian itu tidak jelas datangnya kapan?"
" Bukankah kita semua tahu bahwa malaikat kematian dan kamu berbeda alam?"
" Bukankah kita semua tahu bahwa ia di sana disibukkan dengan urusan-urusan dari Tuhan?"
"Bukankah kita semua tahu bahwa saat ini ia adalah milik Dewi Kematian?"
Gadis Hujan menanggapi dengan hampa,
"Aku masih mencintai malaikat kematian, teman-teman"
Hingga di suatu malam yang cerah, penjelajah bintang mendatangi gadis hujan.
"Ssst....gadis, inilah kebahagiaan yang kami bicarakan" Bisik Angin malam.
"Aku tidak tertarik pada segala macam hubungan, kecuali berteman" Jawab si gadis sinis.
Gadis hujan dan Penjelajah bintang kemudian berkenalan.
Tak lama terjalin sebuah percakapan.
Penjelajah menawarkan persahabatan, sang gadis menjawab dengan sebuah anggukan.
"Tuan Penjelajah,
Lebih suka hitam atau putih?
Lebih suka mendengarkan atau didengarkan?
Lebih suka pesawat atau kapal?
Lebih suka hujan atau panas?"
" Hitam dan putih, aku suka keduanya. Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar hitam dan benar-benar putih, bukan?
Aku lebih suka didengarkan, tetapi tidak keberatan untuk mendengarkan.
Aku juga menyukai hujan sama seperti kamu.
Dan ingat Gadis, aku tidak pernah mengendarai pesawat maupun kapal. Tentu saja, aku lebih memilih unicorn-ku"
" Gadis,
menurut kamu apakah itu cinta?"
" Cinta bukan sesuatu yang dapat didefinisikan, Tuan Penjelajah.
Sehingga aku tidak pernah dapat menjawab pertanyaan seperti yang Tuan tanyakan.
Menurutku, untuk tahu apa itu cinta, yang Tuan perlukan hanyalah melihat, mendengar dan merasakan"
"Lalu, ketika aku menyebut cinta, apakah yang kamu lihat, dengar dan rasakan?"
"Kematian-ku"
" Mengapa?"
"Karena itulah saatnya aku berjumpa dengan Sang Malaikat Kematian"
" Apakah saat ini kamu sedang mengharapkannya?"
"Tentu saja, Tuan. Apa lagi yang dapat membuat aku bahagia selain bertemu dengannya?"
"Kalau begitu, ikutlah denganku. Aku akan mendatangi Proxima Centauri**). Semoga dalam perjalanan kita, kamu belajar mengenai kehidupan"
Maka berangkatlah Gadis hujan dan Penjelajah Bintang.
Ia berharap di perjalanannya kematian mendatanginya.
Ia berharap malaikat kematian mengambil jiwanya dan membawanya serta ke alam lain di sana.
Sama sekali tak diacuhkannya perjalanan indah bersama Penjelajah.
"Gadis hujan, apakah kamu mencintai malaikat kematian?" Suatu ketika penjelajah bintang bertanya.
" Sudah jelas jawabannya, Tuan"
" Apakah malaikat kematian mencintai kamu?"
Gadis hujan terdiam, " Barangkali. Tapi aku dapat memastikan bahwa dahulu ketika ia masih menjadi ksatria malam***), ia benar-benar mencintaiku"
" Berarti kamu mengharapkan ksatria malam, bukan malaikat kematian"
" Apa bedanya jika keduanya sama saja?"
" Waktu yang membuat mereka berbeda, Gadis"
Jawaban itu membuat gadis hujan terdiam.
dalam diam ia tahu-tahu tertarik pada sosok angkuh Penjelajah Bintang.
Sang Penjelajah sepintas menyebalkan.
Namun, kata-katanya cukup mengena perasaan.
Sang Gadis Hujan tiba-tiba menyimpan sebuah pertanyaan.
Apakah sang penjelajah bintang yang memiliki jawabannya?
Directed by oPHy at 8:41:00 PM 0 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Far-Far away, hiduplah seorang gadis biasa-biasa saja.
Ia tidak cantik namun tidak pula terlalu jelek.
Ia tidak pintar, tapi tidak bodoh-bodoh amat.
Ia tidak terkenal, namun cukup punya kenalan.
Tapi ia mencintai hujan.
Sangat.
Ia biasa dipanggil, "gadis hujan"
Dahulu, ia punya kekasih.
Ksatria dari negeri di mana malam seolah abadi.
Ia gagah dan pemberani.
Ia begitu memikat hati.
Memberi warna-warni,
Menghadiahi sang gadis-hujan selengkung pelangi....
Sang gadis selalu memanggil kekasihnya, "Ksatria Malam".
Suatu hari, Sang Ksatria hendak berkelana.
Sebelum berangkat, ia berkata pada sang gadis, "Tunggu aku, jangan kemana-mana. Nikmati saja langit hujanmu"
Sang gadis menurut.
Percaya bahwa Sang Ksatria akan memenuhi janji.
Namun lama ditunggu, sang Ksatria tak kunjung kembali.
Sang gadis gundah dan bertanya-tanya,
Kemanakah gerangan perginya Ksatria?
Apakah ia baik-baik saja?
Apakah ia masih ingat pada janjinya?
Suatu siang, matahari memberi kabar pada sang gadis,
"Wahai gadis hujan, Ksatria-mu telah mati"
Sang gadis menangis, nyaris gila, kemudian....
Ia memilih untuk mati saja.
Menyusul kekasihnya yang telah pergi ke alam baka.
Namun, di suatu malam saat sang gadis meregang ajal,
di salah satu sudut langit malam yang bertabur bintang,
sesuatu bergerak perlahan.
Sang gadis tertarik. Ia pun mengamati.
"Oh, Bintang jatuh!" Teriaknya gembira.
Ia percaya bahwa bintang jatuh membawa kebahagiaan untuknya.
Ia pun menunda untuk mati.
Ingin bertemu saja dengan bintang jatuhnya.
Bermalam-malam kemudian, ia sering duduk-duduk di bawah langit malam.
Kesukaannya kali ini hujan dan juga langit malam.
Tentu saja untuk bertemu dengan bintang jatuh yang ia yakini membawa kebahagiaan.
Dan si Bintang yang bermalam-malam lalu ia lihat, kembali tampak di langit malam.
Kali ini lebih jelas.
Kali ini lebih nyata.
Sang gadis nyaris bersorak bahagia.
Namun ia urungkan, kegembiraannya tercekat di tenggorokan.
Ternyata yang ia lihat bukan bintang jatuh.
Yang ia lihat hanyalah kerlip lampu pesawat ulang-alik.
Sepintas memang seperti bintang jatuh, namun ia tidak membawa kebahagiaan seperti halnya bintang jatuh.
Sang gadis kecewa.
Semakin hari, ia semakin larut dalam kekecewaan.
Ia pun teringat kembali pada niatnya untuk menyusul ksatria malam ke alam baka.
Benar.
Ia ingin mati saja.
Kali ini ia benar2 ingin mati saja.
Dalam kebulatan tekad untuk mati, datanglah kabar dari angin utara,
"gadis-hujan, kastria malam sudah kembali.... Tapi ia bukanlah ksatria malam lagi"
Kabar dari angin utara membuat gadis hujan bahagia sekaligus sedih.
Ksatianya sudah kembali namun tidak lagi sebagai ksatria malam?
Apa maksudnya?
Sang gadis-hujan bertanya2 dalam hati.
Ia berusaha mencari dan mencari sang ksatria yang bukan ksatria malam lagi.
Ia bertanya pada hujan,
Ia bertanya pda pelangi,
Ia bertanya pada awan,
Ia bertanya pada kupu-kupu,
Ia bertanya pada kunang-kunang,
Ia bertanya pada bulan,
Ia bertanya pada matahari,
Ia bertanya pada rerumputan,
Ia bertanya pada hutan,
Ia bertanya pada pantai,
Ia bertanya pada gunung,
Mereka bungkam.
Seolah sepakat untuk tidak memberi jawaban.
Sang gadis menangis.
Memohon pada Tuhan untuk memberikannya jawaban.
Tuhan pun mengirimkannya Malaikat Kematian.
Malaikat kematian datang tepat di suatu malam yang dingin.
Saat itu hujan.
Sang gadis-hujan sedang berdiri diam dalam kegelapan.
Sang Malaikat mendekatinya dalam sunyi.
Waktu seolah berhenti saat keduanya bertatapan.
"Kematianku sudah datang?' Tanya sang Gadis.
"Belum. Belum saatnya kamu mati" Jawab malaikat kematian.
"Lalu mengapa kamu datang?Bukankah kamu hanya mendatangi orang-orang yang sudah sepantasnya mati?"
"Aku datang karena Tuhan mengirimkanku sebagai jawaban, Gadis. Aku adalah Ksatria Malam. Aku diangkat Tuhan menjadi Malaikat Kematian. Aku mengembara kemana aku diperintah untuk mendatangi orang-orang yang sudah seharusnya mati. Namun kali ini Tuhan tidak mengirimkanku untuk memperlihatkanmu kematian, Melainkan memperlihatkanmu sebuah jawaban. Inilah jawaban atas penantian dan doamu"
" Lalu, bagaimana caranya supaya aku bisa mati?bagaimana caranya supaya aku dapat bertemu denganmu lagi?haruskah aku membunuh diriku sendiri untuk bertemu kamu lagi?"
" Sabarlah Gadis. Kematian yang indah akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar. Jika saatnya tiba, aku sendiri yang akan memperlihatkan kematian untukmu. Tunggulah kematianmu. Tunggulah aku"
Malaikat kematian pun pergi.
Bagaimanapun si gadis-hujan berdarah, menangis, berdoa dan berharap...
ia belum pernah mendatangi si gadis kembali.
belum saatnya.
belum saatnya untuk mati.
jika saatnya tiba,
aku pun akan mati.
lalu bertemu kamu,
malaikat-kematianku.
* Judul terinspirasi dari Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (by Dewi Lestari) serta Putri Hujan dan Ksatria Malam (by Sitta Karina)
Directed by oPHy at 6:56:00 PM 1 opinion(s)
Episode: The Chronicle of Gadis-Hujan
Template by suckmylolly.com